Leo Ahrens, Pembalap Yatim Berusia 12 Tahun yang Tak Peduli Rasa Takut

BMX RACING ID - Namanya Leo Ahrens. Bocah 12 tahun asal Lacombe ini baru saja tampil mewakili Tim AS di Kejuaraan Dunia BMX UCI di Brisbane, Australia, bulan lalu. Ia berhasil…
BMX RACING ID - Namanya Leo Ahrens. Bocah 12 tahun asal Lacombe ini baru saja tampil mewakili Tim AS di Kejuaraan Dunia BMX UCI di Brisbane, Australia, bulan lalu. Ia berhasil finis di posisi ke-41 untuk Kategori Cruiser usia 13-14 tahun dan posisi ke-39 untuk kategori Class. Kategori Class dan Cruiser dibedakan berdasarkan ukuran roda sepedanya. “Ini adalah hal paling keren yang pernah saya lakukan seumur hidup,” ujar Ahrens. “Saya menikmati setiap detiknya.” Ahrens bepergian bersama neneknya, Cynthia Ahrens, dan seorang teman keluarga. Ia merupakan satu dari 16 pembalap yang bertanding mewakili Tim AS. Ahrens lolos ke Kejuaraan Dunia setelah finis di posisi kedua pada ajang World Challenge Race pada Maret. Di Kejuaraan Dunia, para pembalap harus melintasi lintasan sepanjang 400 meter yang penuh dengan tikungan tajam dan lompatan-lompatan besar. Ini jelas bukan olahraga untuk orang yang penakut. “Semuanya serba besar,” kata Ahrens. “Semua rintangannya sangat tinggi dan sulit untuk dilompati. Ini adalah lintasan tersulit yang pernah saya jajal.” Mengenal Sepeda Setelah Ayahnya Meninggal Ahrens, yang kini memiliki tinggi 168 cm dan berat 57 kg, pertama kali kenal dengan olahraga ini pada usia 6 tahun, tak lama setelah ayahnya meninggal dunia. “Ada dua orang, teman saya Nathan Mayeaux dan ayahnya, yang mengajak saya ikut,” kata Ahrens. “Tepat setelah ayah saya meninggal, mereka bertanya, 'Mau ikut ke trek di Gretna?' Dan saya pikir itu bisa bikin saya keluar rumah. Begitulah semuanya bermula. Saya terus bertahan dan mendorong diri saya.” Ahrens memiliki empat sepeda, dan ia membawa dua di antaranya ke Australia. Ia sudah pernah mengalami cedera di lintasan sebelumnya—pergelangan kaki patah, gegar otak, dan banyak memar. “Itu bagian dari olahraga ini—memang biasa terjadi,” ujar Ahrens. “Saya tidak peduli siapa Anda. Anda bisa saja seorang profesional atau pembalap terbaik di dunia, Anda pasti tetap akan merasa takut. Saya mendengar setiap pembalap pro membicarakan hal itu. Mereka juga gugup.” Ahrens menghabiskan waktu dua pekan di Negeri Kanguru. Di sana sedang musim dingin, dan suhunya tergolong sejuk jika dibandingkan dengan bulan Juli di Louisiana. Ia sempat berkunjung ke kebun binatang, mengelus kanguru, dan melihat koala. Ia juga berenang di Laut Koral, serta menukarkan beberapa jersey Tim AS miliknya dengan jersey pembalap dari Australia, Selandia Baru, dan Jepang. “Saya sangat puas, tapi juga sedikit kecewa. Saya pikir saya bisa tampil lebih baik, tapi saya tahu saya bertanding melawan anak-anak yang hebat dan mereka sangat cepat,” kata Ahrens. “Saya akan mengalahkan mereka lain kali.” Kejuaraan Dunia 2027 akan digelar di Prancis, dan Ahrens mengatakan ia sangat ingin pergi ke sana lagi jika berhasil lolos kualifikasi. “Saya menyukai pacuan adrenalin yang didapat dari balapan dan rasa kekeluargaan yang terbangun di dalamnya,” ujar Ahrens. “Dan saya percaya bahwa setiap orang bisa mencapai tujuan mereka jika berusaha cukup keras.” Ahrens telah memenangkan kejuaraan negara bagian Louisiana dan sering berlatih di trek Gretna. Ia mengaku tidak tahu apakah ada rahasia khusus untuk menjadi pembalap yang hebat; kunci utamanya hanyalah berlatih keras dan memiliki mentalitas yang tepat. Agenda berikutnya dalam jadwal balapnya adalah balapan Gold Cup, sebuah kompetisi tingkat regional di Texas. Setelah itu, impiannya tak terbatas. “Saya sangat ingin menjadi pembalap profesional,” kata Ahrens. “Bukan hanya karena Anda memiliki kesempatan untuk melakukan hal-hal yang lebih besar dan lebih baik, bepergian, serta bersenang-senang, tetapi juga karena Anda bisa berpacu melawan pembalap-pembalap yang makin cepat.”***
